Rabu, 21 Desember 2016

ciri khas penamaan orang bali



Nama orang Bali umumnya diawali dengan sebutan yang mencirikan kasta (wangsa) dan urutan kelahiran. Sebelum saya melanjutkan, disini saya tidak ingin membahas masalah kasta yang sering menjadi pro dan kontra di masyarakat khususnya di Bali.
 Menurut "sastra kanda pat sari", Nama-nama depan khas Bali itu sejatinya tidak lebih sebagai semacam penanda urutan kelahiran sang anak, dari pertama hingga keempat, adalah sebagai berikut:
  1. Anak pertama biasanya diberi awalan “Wayan” diambil dari kata wayahan yang artinya tertua / lebih tua, yang paling matang. Selain Wayan, nama depan untuk anak pertama juga kerap kali digunakan Putu atau Gede. Dua nama ini biasanya digunakan oleh orang Bali di belahan utara dan barat, sedangkan di Bali Timur dan Selatan cenderung memilih nama Wayan. kata “Putu” artinya cucu. Sedangkan “Gede” artinya besar / lebih besar. Dan untuk anak perempuan kadang diberi tambahan kata “Luh” Contoh : I wayan budi mahendra, Ni Putu Erni Andiani, I Gede Suardika, Ni Luh Putu Santhi dll
  2. "Made" diambil dari kata madya (tengah) sehingga digunakan sebagai nama depan anak kedua. Di beberapa daerah di Bali, anak kedua juga kerap diberi nama depan "Nengah" yang juga diambil dari kata tengah. Ada juga yang menggunakan kata “Kadek” merupakan serapan dari “adi” yang kemudian menjadi “adek” yang bermakna utama, atau adik. Contoh: I Kadek Mardika, Ni Made Suasti, Nengah Sukarmi dll
  3. Anak ketiga biasanya diberikan nama depan "Nyoman" atau "Komang" yang  konon diambil dari kata nyeman (lebih tawar) yang mengambil perbandingan kepada lapisan kulit pohon pisang, di mana ada bagian yang selapis sebelum kulit terluar yang rasanya cukup tawar. Nyoman ini konon berasal dari serapan “anom + an” yang bermakna muda.  Kemudian dalam perkembangan menjadi komang yang secara etimologis berasal dari kata uman yang bermakna “sisa” atau “akhir”.  Jadi menurut pandangan hidup kami, sebaiknya sebuah keluarga memiliki tiga anak saja.  Setalah beranak tiga, kita disarankan untuk lebih “bijaksana”. Namun zaman dahulu, obat herbal tradisional kurang efektif untuk mencegah kehamilan, coitus interruptus tidak layak diandalkan, dan aborsi selalu dipandang jahat, sehingga sepasang suami istri mungkin saja memiliki lebih dari tiga anak. Contoh: I Nyoman Indrayudha, Ni Komang Ariyuni dll
  4. Anak keempat : diawali dengan sebutan “Ketut”, yang merupakan serapan “ke + tuut” – ngetut yang bermakna mengikuti mengikuti atau mengekor. Ada juga yang mengkaitkan dengan kata kuno Kitut yang berarti sebuah pisang kecil di ujung terluar dari sesisir pisang. Ia adalah anak bonus yang tersayang. Karena program KB yang dianjurkan pemerintah, semakin sedikit orang Bali yang bertitel Ketut. Itu sebabnya ada kekhawatiran dari sementara orang Bali akan punahnya sebutan kesayangan ini. Contoh: I Ketut Nugraha, Ni Ketut Sudiasih dll
Orang Bali memiliki sebuah tabu bahwa petani tidak boleh menyebut kata tikus, di Bali disebut bikul,  di sawah, karena hal ini bagai mantra yang bisa memanggil tikus. Untuk itu di sawah, orang memanggilnya dengan julukan spesial  ” Jero Ketut”. Ia bermakna tuan kecil. Ini berangkat dari pandangan bahwa tikus bagimanapun juga adalah bagian dari keseimbangan alam.


Bila keluarga berancana gagal, dan sebuah keluarga memiliki lebih dari empat anak? Di sini ada 2 alternatif yang bisa dipakai orang tua untuk memberi nama depan pada anak kelima, keenam, dan seterusnya:
  • nama depan untuk anak kelima dan seterusnya mengulang kembali nama-nama depan sebelumnya sesuai urutannya.
  • Ada orang tua yang sengaja menambahkan kata "Balik" setelah nama depan anaknya untuk memberi tanda bahwa anak tersebut lahir setelah anak yang keempat. Contohnya: I Wayan Balik Suandra. Jadi nama depannya adalah "I Wayan Balik" yang menandakan bahwa dia adalah anak kelima, atau anak yang lahir setelah putaran 1 sampai 4.

Perkembangan TIK



Indonesia pernah menggunakan istilah telematika untuk arti yang sama artinya dengan TIK yang dikenal saat ini. Encarata Dictionary mendeskripsikan telematics telecomunication + information (teknologi+inormasi) meskipun sebelumnya kata itu bermakna science of data transmission. Pengolahan informasi dan pendistribusiannya melalui jaringan telekomunikasi membuka banyak peluang untuk dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk salah satunya bidang pendidikan.
Ide untuk menggunakan mesin-belajar, membuat simulasi proses-proses yang rumit, animasi proses-proses yang sulit dideskripsikan sangat menarik minat praktisi pembelajaran. Tambahan lagi, kemungkinan untuk melayani pembelajaran yang tak terkendala waktu dan tempat juga dapat difasilitasi oleh TIK. Sejalan dengan itu mulailah bermunculan berbagai jargon berawalan e, mulai dari e-booke-learninge-laboratorye-educatione-library, dan sebagainya. Awalan e bermakna electronics yang secara implisit dimaknai berdasar teknologi elektronika digital.
Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran indonesia telah memiliki sejarah yang panjang. Inisiatif menyelenggarakan siaran radio pendidikan dan televisi pendidikan merupakan upaya melakukan  penyebaran informasi ke satuan-satuan pendidikan yang tersebar di seluruh nusantara
Kelemahan utama siaran radio maupun televisi pendidikan adalah tidak adanya feedback yang seketika. Siaran bersifat searah yaitu dari narasumber atau fasilitator kepada pembelajar. Introduksi komputer dengan kemampuannya mengolah dan menyajikan tayangan multimedia (teks, grafis, gambar, suara, dan gambar bergerak) memberikan peluang baru untuk mengatasi kelemahan yang tidak dimiliki siaran radio dan televisi. Bila televisi hanya mampu memberikan informasi searah (terlebih jika materi tayangannya adalah materi hasil rekaman), pembelajaran berbasis teknologi internet memberikan peluang berinteraksi baik secara sinkron (real time) maupun asinkron (delayed). Pembelajaran berbasis Internet memungkinkan terjadinya pembelajaran secara sinkron dengan keunggulan utama bahwa pembelajar maupun fasilitator tidak harus berada di satu tempat yang sama. Pemanfaatan teknologi video conference yang dijalankan dengan menggunakan teknologi Internet memungkinkan pembelajar berada di mana saja sepanjang terhubung ke jaringan komputer. Selain aplikasi unggulan seperti itu, beberapa peluang lain yang lebih sederhana dan lebih murah juga dapat dikembangkan sejalan dengan kemajuan TIK saat ini.
Referensi         :


Makanan khas bali (Botok ayam)



Botok ayam
Botok ayam adalah salah satu makanan khas bali, yang berbahan dasar kelapa dan ayam, tetapi daging ayam bisa diganti juga dengan yang lainya seperti udang, ikan dan hati ayam.
Bahan-bahan
1/2 kg ayam (potong kecil)
1/2 butir kelapa muda (parut memanjang)
2 buah tomat hijau (potong dadu kecil)
seduhan air asem jawa(jika suka rasa asam)
secukupnya (gula,garam dan royco)
Bumbu yang dihaluskan
8siung bawang merah
7 siung bawah putih
3 cabai merah
1 ruas kencur

Langkah
Parut kelapa
Haluskan bumbu seperti : bawang merah, bawang putih, cabai
Setelah dihaluskan campur dengan potongan tomat hijau dan parutan kelapa
Kemudian campur dengan ayam yang telah dipotong kecil-kecil, masukan juga air asam jawa dan penyedap rasa. Kemudian bungkus dngan daun pisang.
Tunggu 15-20 menit botok siap dihidangkan.
Selamat mencoba


Kamis, 10 November 2016

Revitalisasi Jiwa Kepahlawanan di Era Modern atau Reformasi

Revitalisasi Jiwa-Jiwa Kepahlawanan di Era/Abad Modern
Sebelum kita masuk tentang revitalisasi jiwa-jiwa kepahlawan di era modern atau reformasi, alangkah baiknya kita mengetahui apa itu revitaisasi. Revitalisasi adalah suatu proses atau cara dan perbuatan untuk menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya terberdaya sehingga revitalisasi berarti menjadikan sesuatu atau perbuatan untuk menjadi vital, sedangkan kata vital mempunyai arti sangat penting atau sangat diperlukan sekali untuk kehidupan dan sebagainya.
Di era globalisasi atau era modern ini perlu adanya revitalisasi jiwa kepahlawaan, mengapa saya katakana begitu karena pada era modern ini jiwa kepahlawanan semakin memudar akibat perkembangan teknologi. Seharusnya spirit jiwa kepahlawanan dapat dijadikan pengikat emosi kebangsaan dan kebersamaan kita di tengah maraknya upaya untuk membuat sekat-sekat di antara sesama anak bangsa yang mengancam keutuhan NKRI. Yang lebih memprihatinkan, banyak diantara kita yang merasa bahwa peringatan hari pahlawan dan hari-hari bersejarah lainnya hanyalah sebagai bentuk seremoni belaka, merupakan agenda rutin setiap tahunnya, dan tanpa pernah ada tindak lanjut kedepannya untuk kemajuan bangsa ini.
Hal yang tak kalah sangat memprihatikannya adalah bobroknya perilaku para pejabat bangsa ini. Orang-orang yang sudah terpilih sebagai wakil rakyat yang seharusnya pro terhadap rakyat, justru malah memperkaya diri dengan praktek korupsinya, penuh dengan kamuflase hipokrisi, dan ironi yang merebak di berbagai aspek bangsa ini. Era globalisasi yang tidak bisa dibendung seperti sekarang ini ditambah dengan ideologi pasar bebasnya semakin menambah orang yang duduk di birokrasi menjadi-jadi untuk memenuhi nafsunya. Mereka terhipnotis untuk menjadi seorang yang oportunis. Tidak ada lagi rasa peduli terhadap sesama. Mereka disibukkan demi kepentingan dan keuntungan pribadi semata.
Merevitalisasi jiwa-jiwa kepahlawanan di era modern ini dalam berbagai aspek sangatlah penting. Kembangkanlah apa yang menjadi bakat dan keahlian kita agar kita bisa menjadi pakar di berbagai bidang di kehidupan ini. Karena menjadi seorang pahlawan itu bukan hanya identik dengan ikut berperang, mengangkat senjata, dan terjun dalam pertempuran. Karena ini konteksnya sudah berbeda dengan era sekarang. Dengan kita menjadi seorang ahli di berbagai bidang yang sekiranya sangat memiliki pengaruh dalam kemajuan bangsa ini, kita sudah bisa dikatakan sebagai seorang pahlawan. Jika kita menyadari, sebenarnya bangsa ini masih terjajah. Maka solusinya, semua pihak harus peduli dan senantiasa menanamkan jiwa-jiwa kepahlawanan, semangat patriotisme, dan jiwa nasionalisme kedalam diri. Jika kesemuanya itu sudah baik, maka saya yakin bangsa ini akan semakin makmur dan sejahtera. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan semakin solid terjaga. Tidak ada lagi yang lupa tanggal 10 november diperingati sebagai hari apa. Tidak ada lagi yang nantinya mengatakan memperingati hari Pahlawan adalah seremoni belaka. Tidak ada lagi yang mengatakan bahwa Motto “Merdeka atau Mati” yang diagungkan para pahlawan terdahulu sebagai sesuatu yang basi. Tidak akan ada lagi yang berani menginjak harkat dan martabat bangsa ini. Karena kita menyadari, mengaku, dan menghargai semua jasa-jasa para pahlawan kita. Kita ingin meneruskan cita-citanya yang belum terwujud dan kita akan melestarikan jiwa-jiwa kepahlawanan yang tertanam dalam diri mereka.